
Ternyata semakin ke sini banyak sekali operator seluler yang merambah bisnisnya ke layanan internet personal yang murah meriah. Di awal-awal, tercatat 2 operator seluler besar yang melakukan trobosan internet murah unlimited. Yakni telkomsel dengan telkomflash unlimitednya dan Indosat dengan IM2 unlimitednya. Kedua-duanya menawarkan internet unlimited murah seharga 100 ribu’an saja/bulan.
Sambutan masyarakat pecinta internet murah pun cukup luar biasa terhadap 2 layanan internet unlimited dari dua operator seluler besar tersebut. Karena fakta menunjukan bahwa terobosan yang dilakukan oleh telkomsel dan indosat cukup berhasil, rupanya operator2 lain pun tidak mau ketinggalan memanfaatkan peluang menarik di bisnis layanan internet ini. Contohnya adalah Smart, axis, Xl dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan bisnis Rt/Rw net? apakah terancam? untuk itu marihlah kita anlisa bersama-sama
.
Analisa ini berdasarkan pengalaman saya selama di hotlink rt/rw net milik teman saya yang berlokasi di kawasan geger kalong, bandung. Bagi yang belum mengenal dan memahami konsep bisnis rt/rw net, mungkin akan saya sedikit jelaskan di sini. Bisnis rt/rw net adalah bisnis jasa koneksi internet ke rumah-rumah yang Coverage Areanya meliputi kawasan rt dan rw. Coverage Area dapat di perluas dengan menambahkan BTS pada wilayah yang cukup jauh.
Nah klo sudah paham tentang konsep dasar bisnis rt/rw.net, sekarang yang mesti di ketahui adalah tentang seberapa besar dana yang harus di keluarkan client/calon client yang akan menggunakan koneksi internet dari rt/rw net kita. Di hotlink, ada ketentuan-ketentuan tertentu dalam hal ini. Kalau calon client berminat memasang internet untuk sendirian, maka client mesti mengeluarkan dana untuk membeli peralatan berupa: radio AP (acces Point) seharga mulai 300-500 an. Kabel UTP sepanjang yang di perlukan (permeter mulai dari 2.000-6.000′an) atau kalau di total biasanya client mengeluarkan dana sekitar 400-500 rb’an. Itu belum termasuk biaya registrasi sebesar 100 rb dan pembayaran koneksi internet 1 bulan kedepan 100 rb (128 kbpps).
Nah, bila calon client yang akan pasang di atas 3 orang (karena lokasi mereka berdekatan) maka hotlink meminjamkan perangkat yang di perlukan seperti radio AP, kabel UTP atau antena yagi. Client hanya mengeluarkan biaya registrasi dan biaya internet yang akan di pakai. Cara seperti ini lebih menguntungkan bagi client. Karena tidak perlu mengeluarkan dana untuk membeli radio AP dan kabel UTP serta perangkat lain.
Untuk koneksi yang di gunakan client variasi harga yang di berikan mulai dari 100 rb sampai 300 rb’an, tergantung kbpps nya. 100 rb = 128 kbpps, 200 rb = 384 kbpps, 300 rb= 512 kbpps.
Nah, untuk mengetahui ketangguhan bisnis rt/rw.net menghadapi layanan internet unlimited dari operator seluler, mari kita coba bandingkan aspek-aspek di bawah ini:
Internet unlimited operator seluler:
- Untuk bisa menggunakan layanan internet unlimited dari operator telepon seluler, calon client mesti membeli/memiliki modem HSDPA yang nilainya mulai dari 900 rb’an-1.2 jt’an (bisa di dapatkan dengan sistem kredit ke operator yang bersangkutan) atau memiliki handphone 3G untuk di gunakan sebagai modem.
- Untuk telkomflash & indosat m2, calon client harus melalui proses registrasi yang cukup ribet. Biasa sampai memakan waktu berhari-hari (testi dari yang dah pernah daftar).
- Bisa ngenet dimanapun dan kapanpun, karena modemnya sangat praktis, yakni modem HSDPA (usb) atau handphone 3G anda. Tapi tidak bisa di share. Bisa seh di akalin, tapi kalau ketahuan kena denda yang cukup berat.
- Menggunakan sistem quota dalam kecepatan aksesnya. Misal: Pelanggan yang menggunakan 256 kbpps, mendapat quota 3 Giga. jika sudah melebihi quota tersebut maka kecepatan akses di bawah 256 kbpps (lebih lambat)
- Terakhir, bayarnya mesti tepat waktu… hehehe kalau bayarnya telat bisa-bisa koneksinya di blok. dan billing terus berjalan.
Nah sekarang koneksi internet dari Rt/Rw net.

- Calon client membeli perlengkapan yang di butuhkan berupa radio acces point (AP) kabel utp, antena wajan bolic/yagi/grid (bila di butuhkan/biasanya klo jaraknya jauh) Tanpa antena biasanya dana yang di keluarkan sebanyak 400-500 rb rupiah. Kalau dengan antena bisa mencapai 700-1.2 juta’an. Nah itu jika calon client pasang untuk sendirian. Tapi kalau di atas 3 orang biasanya pihak pengelola rt/rw net meminjamkan semua yang di butuhkan (kecuali antena grid, mahal soalnya). Oh ya jika client sendirian pun, ada beberapa rt/rw net yang mempunyai kebijakan sewa alat & nyicil alat.
- Proses registrasinya cukup mudah, tinggal contact pihak rt/rw netnya, lalu di survei tempat. Jika ok di tentukan waktu installasinya, selesai. Bayar registrasi deh, biasanya cuma 100 rb saja.
- Ngenetnya hanya bisa di rumah, melalui jaringan kabel utp atau hotspot (tergantung settingan). Bisa di share ke beberapa PC, bahkan bisa menjualnya kembali ke tetangga terdekat.
- Tidak ada sistem quota, dan kestabilan kecepatan akses tergantung ke profesionalan pihak rt/rw net dalam manajemen bandwithnya.
- Mengenai pembayaran, masing-masing pihak rt/rw net mempunyai kebijakan sendiri-sendiri. Ada yang tegas, ada yang nyantai, ada yang friendly.
Mungkin itu saja point-point yang dapat saya analisa, sebetulnya kalau mau cermat lagi, masih ada beberapa point penting. Silahkan di tambahin ya
.
Kesimpulannya, apakah bisnis rt/rw net masih cukup menggairahkan di tengah2 maraknya layanan internet unlimited murah dari operator seluluer? jawabannya silahkan di pikirkan sendiri :p
Semoga bermanfaat.


Ternyata ribet juga ya kalau mau ngenet.lbh baik ngenet dengan hp lebih praktis dan ekonomis
kayaknya Rt/Rw Net dan Operator Seluler mempunyai segmen pasarnya masing-masing deh.
Apalagi penetrasi internet connection di Indonesia sangat luar biasa Ke depan.
Salam,
@jumal: yang ngga ribet ngenet gratisan di kampus atau warnet temen hehehe
@Acha: Betul… intinya mah kita sebagai pecinta internet mengharapkan internet murah meriah dengan speed mantap di negeri kita yah
coment 329 luar biasa artikel anda sangat bermanfaat bagi saya dan keluarga